Saya baru aja baca salah satu blog temen saya Puji Wijaya - Menikah Muda . Lucu juga, saya pikir cuma saya aja yang masih beranggapan kalau menikah di usia seperti saya ini masih terbilang kecil, atau setidaknya itu yang saya pikirkan untuk diri saya sendiri. Ternyata teman saya, Puji itu juga berpikir demikian.
Usut-usut tentang menikah, saya kemudian jadi teringat kuliah saya dengan salah seorang dosen yang cukup saya kagumi di tempat saya kuliah sekarang ini. Beliau mengajar saya di kuliah tentang sosial dan kepribadian, dan seringkali memberi contoh mengenai hal-hal yang terjadi sehari-hari yang terkait dengan materi kuliah pada saat itu. Sampai pada suatu titik dimana pembicaraan mengenai keluarga dan pasangan menikah pun muncul.
Salah satu pesan beliau yang saya terapkan sampai saat ini adalah, sebelum menikah, masing-masing harus menyelesaikan konflik pribadi mereka sendiri-sendiri.
Banyak orang beranggapan bahwa ketika kita menikah, kita memberikan 50% dan kemudian pasangan kita akan memberikan sisanya, sering dibilangnya 'melengkapi satu sama lain'. Tapi, terkadang prakteknya, ketika seseorang berada di bawah, ia seringkali membutuhkan pasangannya untuk menopangnya ke atas. Jadi, kalau dilepas malah jatuh dan akhirnya pasangannya pun 'terbebani' karena harus mengangkat terus.
Kasus lain, ada juga mungkin seseorang yang cenderung dominan (seperti saya) dan kemudian selalu menekan pasangannya karena ia merasa porsinya lebih besar dibandingkan pasangannya. Akhirnya akan timbul percecokkan karena saling menekan satu sama lain.
Oleh karena itu, tentu saja sebelum menikah ada baiknya kalau kita sama-sama menilai diri sendiri. Melihat apakah saya sudah cukup bisa memberikan 100% kepada hubungan tersebut atau belum. Bukannya ingin ditarik supaya bisa lebih baik atau harus menekan supaya bisa menjadi lebih unggul. Tetapi berjalan berdampingan. Ada kalanya pasti seseorang harus didukung atau disokong, tapi kalau terus-terusan kan capek juga.
Jadi, kalau mau menikah terus masih merasa kalau ada konflik pribadi yang masih belum terselesaikan, jangan berharap nanti pasangan Anda yang bakal bertugas untuk menyelsaikannya, tapi itu tugas Anda sendiri untuk menyelesaikan masalah Anda. Setelah keduanya sama-sama bebas konflik, baru deh Anda sudah siap 100% untuk membangun rumah tangga sendiri.
Untuk teman-teman saya yang sudah menikah, berarti saya berani acungkan 2 jempol! Karena mereka sudah berani untuk memberikan 100% untuk rumah tangganya sendiri. Sedangkan kalau saya masih butuh waktu yang cukup lama untuk membenahi diri.
Makanya, kalau sampai detik ini masih ada yang suka risih dengan pertanyaan orang-orang yang bertanya, "Kapan nikah?", nggak perlu merasa terintimidasi. Kalau bisa menikah itu kan sekali aja seumur hidup dan pastinya kan mau membangun bahtera rumah tangga yang solid, jadi untuk apa buru-buru kalau memang belum siap?
Masalah-masalah yang sering muncul nih kalau ternyata kedua pasangannya belum siap dan pernikahannya tidak solid 100% dari keduanya, pasti deh gampang sekali untuk dimasuki oleh pihak ke-3. Jadi, kalau sampai ada perselingkuhan, itu bukan hanya salah 1 pihak aja, tapi pasti dari hubungan tersebut memang sudah tidak sehat. Kalau memang sehat dan solid, nggak mungkin donk ada maling yang bisa nerobos masuk?
Jadi, mari kita buat hubungan yang solid dengan pasangan masing-masing. Saya juga sudah mulai mencoba untuk berbenah diri, sampai pada saatnya nanti saya siap untuk memberikan 100%, bukan 50% lagi!
Git, jangan nikah, selibat aja
ReplyDelete