Saturday, November 2, 2013

Humor = Agresi ?

Mungkin saya memang lagi sangat suka browsing video-video gosip karena nggak pernah mengikuti berita-berita lagi di TV. Sapai pada akhirnya tiba-tiba di salah satu situs internet, saya direkomendasikan oleh situs tersebut untuk membuka sebuah rekaman video tentang seorang presenter yang juga kurang lebih jadi komedian dan ternyata leluconnya tersebut tidak ditanggap positif oleh si orang yang dibuat lelucon tersebut. Singkat cerita, akhirnya si komedian tersebut dituntut oleh si korban lelucon, padahal kasus yang serupa kurang lebih juga pernah menimpa si komedian tersebut.

Tiba-tiba saya jadi ingat kuliah saya hari Kamis lalu. Saya ada di kelas Perkembangan Bahasa dan sedang membahas mengenai perkembangan bahasa pada anak usia sekolah dasar dan sampailah pada tahap dimana ketika pada usia tersebut anak sudah mulai dapat melakukan, teasing. Teasing kalau arti harafiahnya mungkin bisa disamakan dengan mengejek atau menggoda, intinya adalah pada anak usia sekolah, mereka sudah mengerti bahasa yang harus mereka gunakan untuk bercanda dan bahwa ada kata-kata tertentu yang artinya adalah untuk mengejek seseorang.

Berangkat dari hal tersebut, akhirnya kami malah berdiskusi perihal agresi dan ternyata (saya juga baru tahu) kalau humor itu merupakan salah satu bentuk agresi!

Kalau kita menilik sebentar pada teori Freud manusia didorong oleh dua drive yakni libido dan agresi. Agresi itu sendiri tidak selamanya berupa hal-hal yang bersifat melukai secara kasat mata, seperti perbuatan -perbuatan fisik. Seringkali kita juga mendengar tentang agresi psikis dan agresi oral/verbal. Nah, dalam humor, yang ditampilkan adalah agresi oral/verbal.

Pandangan awal saya tentang agresi oral/verbal itu sendiri lebih kepada pemakaian kata-kata kasar atau kemarahan yang diluapkan melalui kata-kata, tapi ternyata kalau kita melihat lebih jauh, humor itu bisa lebih menyakitkan lowh daripada makian. Coba kita lihat beberapa comic - stand up comedy yang hobi melontarkan kritikan sosial atau melontarkan lelucon mengenai suatu tokoh, bukankah hal tersebut merupakan salah satu bentuk dari agresi? Secara tidak sadar kita menertawakan hal tersebut, karena bisa jadi kita juga menikmati adanya kekurangan-kekurangan dalam diri seseorang atau suatu hal.

Memang sih, lelucon itu tidak menyakiti orang secara fisik, tapi anehnya itu menarik banyak orang. Lihat saja betapa lakunya presenter-presenter yang hobi mencela orang atau saling memaki satu sama lain. Kok ya banyak saja yang menyukai dan menonton acara tersebut terus-terusan? Bukankah itu artinya banyak orang menikmati kesusahan orang lain ya? Berarti banyak orang tertawa di atas penderitaan orang lain yang dicela donk?

Nggak cuma acara yang isinya timpuk-timpukan pakai barang-barang dari gabus aja yang isinya penuh dengan agresi, bahkan acara musik aja bisa dibawakan oleh pembawa acara yang menampilkan agresinya dengan cukup gamblang, dan diterima dengan sangat baik oleh masyarakat.

Lalu, saya kemudian berfikir, apakah iya bahwa kalau semua komedian atau orang yang suka bercanda itu agresinya begitu tinggi? Saya sendiri sih nggak berani menyimpulkan karena saya belum pernah mengadakan penelitian semacam itu sendiri, apalagi menyimpulkan bahwa penonton yang melihat acara tersebut juga merupakan orang-orang yang agresinya juga tinggi.

Lagipula, menurut saya pribadi, agresi itu kan memang pasti ada, dan kalau hal tersebut masih dapat membuat seseorang berfungsi dengan baik dan tidak menimbulkan permasalahan bagi orang lain, berarti tidak ada masalahnya kan? Nah, bagaimana dengan orang yang akhirnya dirugikan dengan si pembawa acara yang hobi mencela orang tanpa pandang situasi tersebut? Apakah si presenter masih tetap harus dipertahankan?

No comments:

Post a Comment